Idul Fitri 2019 Muhammadiyah NU Pemerintah SAMA!

Kapan tanggal hari raya idul fitri 2019?
Kapan tanggal idul fitri 2019 berapa hijriah?
Kapan hari raya idul fitri 2019 jatuh pada tanggal?
Kapan tanggal idul fitri 2019 Muhammadiyah?
Kapan tanggal idul fitri 2019 NU?
Kapan tanggal idul fitri 2019 Pemerintah?
Kapan Tanggal idul fitri 2019 sama?
Kapan Idul fitri 2019 hasil sidang isbat?
Itulah kebanyakan orang bertanya dan mencari informasi seputar hari raya idul fitri 2019?

 

Idul Fitri 2019

 

Situs palingmenarik.name memprediksi idul fitri 2019 tanggalnya akan sama. Kenapa kami yakin sama? Karena kami berpatokan pada Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 01/Mlm/I.0/E/2019 Tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, Dan Zulhijah 1440 Hijriah seperti gambar dibawah ini:


loading...

Idul Fitri Muhammadiyah

 

Gambar diatas berdasar dari hasil hisal Muhammadiyah untuk Syawal 1440 bahwa:

  1. Ijtimak jelang Ramadan 1440 H terjadi pada hari Ahad Kliwon, 5 Mei 2019 M pukul 05:48:25 WIB.
  2. Tinggi Bulan pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta (f= -07°48¢ (LS) dan l= 110°21¢BT)= +05°48¢20² (hilal sudah wujud).
  3. 1 Ramadan 1440 H jatuh pada hari Senin Legi, 6 Mei 2019 M.

 

Point penting adalah pada nomor 2, yaitu tinggal bulan sudah 5′ sehingga hilal sudah wujud. Sedangkan Pemerintah dan NU patokannya cuma 2′ jadi karena sudah 5′ dipastikan Lebaran Idul Fitri 2019 akan sama.


Baca Juga:
- Paket Wisata Murah
- Paket Wisata Luar Negeri
- Rental Motor Jogja
- Hotel Murah
- Tiket Pesawat Murah


 

Jadi situs palingmenarik.name berpendapat Lebaran Idul Fitri 2019 akan sama yaitu:

  • Tanggal Idul Fitri 2019 Muhammadiyah hari Senin, 6 Mei 2019
  • Tanggal Idul Fitri 2019 Pemerintah hari Senin, 6 Mei 2019
  • Tanggal Idul Fitri 2019 NU hari Senin, 6 Mei 2019

 

Kenapa di Indonesia kadang awal puasa ramadhan dan idul fitri beda? Karena beda kriteria penentuannya, detail bisa dibaca di bawah ini:

Di Indonesia sendiri ada beberapa ormas islam yang penentuan awal bulan kadang berbeda, seperti Muhammadiyah menggunakan wujudul hilal dan NU menggunakan rukyatul hilal. Apakah perbedaan dari wujudul hilal dan rukyatul hilal?

 

Menurut laman wikipedia https://id.wikipedia.org/wiki/Hisab_dan_rukyat

Rukyatul Hilal

Rukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.

Kriteria ini berpegangan pada Hadits Nabi Muhammad:

Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal) menjadi 30 hari”.

Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU), dengan dalih mencontoh sunnah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab. Bagaimanapun, hisab tetap digunakan, meskipun hanya sebagai alat bantu dan bukan sebagai penentu masuknya awal bulan Hijriyah.

 

Wujudul Hilal

Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum Matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub), dan Bulan terbenam setelah Matahari terbenam (moonset after sunset); maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat Matahari terbenam.

 

Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Muhammadiyah dan Persis dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Akan tetapi mulai tahun 2000 PERSIS sudah tidak menggunakan kriteria wujudul-hilal lagi, tetapi menggunakan metode Imkanur-rukyat. Hisab Wujudul Hilal bukan untuk menentukan atau memperkirakan hilal mungkin dilihat atau tidak. Tetapi Hisab Wujudul Hilal dapat dijadikan dasar penetapan awal bulan Hijriyah sekaligus bulan (kalender) baru sudah masuk atau belum, dasar yang digunakan adalah perintah Al-Qur’an pada QS. Yunus: 5, QS. Al Isra’: 12, QS. Al An-am: 96, dan QS. Ar Rahman: 5, serta penafsiran astronomis atas QS. Yasin: 36-40.